Latest Post

REALITANUSANTARA.COM

PADANG — Komitmen memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus menjadi perhatian Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi. Melalui kegiatan peningkatan kapasitas pengusaha dan UMKM Angkatan XIX, para pelaku usaha diberikan kesempatan untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, serta membangun motivasi agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Bungus Teluk Kabung, Kamis (5/11/2026), tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat, khususnya para pelaku UMKM yang selama ini berupaya mengembangkan usaha di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Salah seorang peserta, Trisnawati, mengaku bersyukur dan mengapresiasi perhatian Muhidi terhadap pengembangan kapasitas pelaku usaha di wilayah Bungus Teluk Kabung.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar memberikan tambahan pengetahuan, tetapi juga menjadi sumber motivasi bagi masyarakat untuk lebih percaya diri dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.

Ia menilai pembekalan yang diberikan sangat bermanfaat karena membuka wawasan mengenai pentingnya kreativitas, inovasi, serta kemampuan membaca peluang dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin berkembang.

"Terima kasih kepada Bapak Muhidi yang telah memberikan perhatian kepada kami melalui kegiatan ini. Kami mendapatkan banyak arahan dan motivasi untuk menuju kesuksesan. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh bisa kami terapkan sehingga UMKM di Bungus Teluk Kabung semakin maju," ungkap Trisnawati.

Ia berharap program peningkatan kapasitas seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Sebab, pelaku UMKM membutuhkan pendampingan dan kesempatan belajar agar mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta mengikuti perubahan kebutuhan konsumen.

Menurut Trisnawati, tantangan yang dihadapi pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan modal, tetapi juga menyangkut pengetahuan, keterampilan, pengelolaan usaha, dan kemampuan memasarkan produk.

Karena itu, kegiatan pembekalan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas usaha sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.

"Kami ingin terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik. Semoga apa yang kami dapatkan hari ini membawa manfaat bagi usaha masing-masing, menambah penghasilan keluarga, dan membuat UMKM Bungus Teluk Kabung semakin dikenal," tuturnya.

Camat Apresiasi Perhatian terhadap Pengembangan UMKM

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Camat Bungus Teluk Kabung, Afridon. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian Ketua DPRD Sumbar Muhidi yang telah menghadirkan program peningkatan kapasitas pengusaha dan UMKM bagi masyarakat di wilayahnya.

Afridon menjelaskan, Bungus Teluk Kabung memiliki potensi ekonomi masyarakat yang cukup beragam. Sebagian masyarakat menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian, perikanan, pekerjaan buruh, hingga kegiatan usaha kecil dan menengah.

Keberagaman mata pencaharian tersebut menjadi potensi yang perlu terus dikembangkan melalui peningkatan keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya ekonomi yang tersedia.

"Semoga kegiatan ini bermanfaat dan menambah bekal bagi kita semua. Kami berharap ilmu yang diberikan kepada kelompok UMKM ini dapat membantu masyarakat Bungus Teluk Kabung mengembangkan usaha menjadi lebih maju dan sukses," kata Afridon.

Ia berharap perhatian pemerintah dan lembaga legislatif terhadap pembangunan Bungus Teluk Kabung dapat terus ditingkatkan, tidak hanya dalam bentuk pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga melalui program pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kemampuan masyarakat akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan warga.

Dengan dukungan berbagai pihak, Afridon optimistis potensi ekonomi lokal Bungus Teluk Kabung dapat berkembang lebih optimal dan melahirkan pelaku usaha yang mandiri serta berdaya saing.

Muhidi: Membangun Pengusaha Membutuhkan Proses dan Pendampingan

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, menegaskan bahwa penguatan UMKM merupakan salah satu langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan keterampilan, serta penciptaan pengusaha baru juga harus menjadi perhatian bersama.

Muhidi menjelaskan, pembangunan infrastruktur memang memberikan manfaat dalam jangka panjang. Namun, membentuk seseorang menjadi pengusaha yang tangguh membutuhkan proses yang tidak singkat.

Diperlukan kesabaran, pembelajaran, keberanian, pengalaman, serta pendampingan secara berkelanjutan agar seseorang mampu membangun dan mengembangkan usaha secara mandiri.

"Kalau infrastruktur sekali dibangun, manfaatnya bisa dirasakan bertahun-tahun. Tetapi mencetak entrepreneur membutuhkan waktu dan proses. Kita berharap dari Bungus Teluk Kabung ada yang tumbuh menjadi pengusaha sukses dan nantinya bisa membagikan ilmu kepada masyarakat lainnya," ujar Muhidi.

Ia juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan keterbatasan modal sebagai alasan untuk tidak memulai usaha.

Menurut Muhidi, keberhasilan dalam berwirausaha tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki. Kemauan untuk memulai, kreativitas, keterampilan, kedisiplinan, serta kemampuan melihat peluang merupakan faktor penting dalam membangun usaha.

Karena itu, ia mendorong masyarakat agar berani memanfaatkan potensi yang dimiliki dan mengembangkannya secara bertahap.

"Jangan menunggu punya modal untuk memulai. Mulailah dengan apa yang kita punya dan bangun modal dari apa yang kita lakukan. Terus tambah ilmu dan keterampilan, karena kesuksesan juga lahir dari kemauan untuk belajar dan keberanian mengambil peluang," pesannya.

Dorong Lahirnya Pengusaha Baru melalui Program Inkubasi

Lebih lanjut, Muhidi menekankan pentingnya pendidikan dan peningkatan pengetahuan sebagai modal utama dalam membangun jiwa kewirausahaan.

Ia menyebutkan, masyarakat dapat memperoleh ilmu melalui berbagai cara, di antaranya belajar langsung dari orang-orang yang telah berpengalaman, mengikuti pendidikan dan pelatihan, serta membiasakan diri membaca untuk memperluas wawasan.

Menurutnya, seorang pengusaha harus memiliki kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dunia usaha terus mengalami perubahan sehingga pelaku UMKM dituntut mampu menghadirkan inovasi dan meningkatkan kualitas produknya.

Muhidi berharap kegiatan peningkatan kapasitas pengusaha dan UMKM tersebut tidak berhenti sebatas pelatihan, tetapi menjadi langkah awal untuk melahirkan pengusaha-pengusaha baru yang memiliki kemampuan mengembangkan usaha secara profesional.

Salah satu upaya yang didorong adalah melalui program inkubasi usaha. Melalui program tersebut, peserta yang memiliki potensi dan kesungguhan diharapkan dapat memperoleh pembinaan lanjutan sehingga mampu mengembangkan usaha hingga mencapai tingkat yang lebih baik.

Bahkan, pengusaha yang berhasil nantinya diharapkan dapat menjadi mentor dan berbagi pengalaman kepada pelaku UMKM lainnya.

"Target kita bukan hanya memberikan pelatihan, tetapi bagaimana melahirkan pengusaha. Mudah-mudahan ada perwakilan dari Bungus Teluk Kabung yang bisa mengikuti program inkubasi, kemudian berkembang dan ikut membina yang lain," tutupnya.

Melalui kegiatan tersebut, Muhidi berharap semakin banyak masyarakat Bungus Teluk Kabung yang berani mengambil peluang di sektor kewirausahaan. Dengan peningkatan kapasitas, pendampingan, dan kolaborasi berbagai pihak, UMKM diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penguatan UMKM bukan hanya tentang membesarkan usaha perorangan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat dan menciptakan peluang kesejahteraan yang lebih luas bagi daerah.(A)

REALITANUSANTARA.COM

BUKITTINGGI – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat, Hj. Yesi Endriani, SM, terus mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan ekonomi kreatif yang inovatif, produktif, serta berdaya saing. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 7–8 November 2026, tersebut merupakan bagian dari agenda kegiatan anggota DPRD Sumbar di Daerah Pemilihan (Dapil) III, yang meliputi Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pelaku UMKM, mengenai kebijakan pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang mampu memberikan nilai tambah terhadap potensi dan produk unggulan daerah.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, Wahendra, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofi Hendria, S.STP., M.Si., Camat Guguk Panjang, para lurah, pengurus TP-PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Dharma Wanita Persatuan (DWP), IWAPI, LKKS, pelaku UMKM, serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta memperoleh pemaparan mengenai arah kebijakan pengembangan ekonomi kreatif, peluang usaha, peningkatan inovasi produk, strategi pemasaran, hingga pentingnya perlindungan hukum terhadap hasil kreativitas dan kekayaan intelektual pelaku usaha.

Perda Ekonomi Kreatif Jadi Landasan Pengembangan UMKM

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, Wahendra, menjelaskan bahwa Perda Nomor 2 Tahun 2023 merupakan salah satu landasan penting bagi pemerintah daerah dalam memberikan kepastian hukum, perlindungan, serta ruang pengembangan bagi para pelaku ekonomi kreatif.

Menurutnya, ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan atau kegiatan UMKM semata, tetapi juga mencakup kemampuan menciptakan inovasi, mengembangkan kreativitas, menghasilkan produk bernilai tambah, serta membangun identitas dan keunggulan produk lokal.

Ia menegaskan bahwa kreativitas merupakan modal utama dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif. Karena itu, pelaku ekonomi kreatif perlu terus mengembangkan ide, kualitas produk, desain, kemasan, dan strategi pemasaran agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Selain itu, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) juga menjadi aspek penting agar karya, merek, desain, dan inovasi yang dihasilkan pelaku usaha mendapatkan perlindungan hukum.

Wahendra juga menekankan pentingnya kolaborasi melalui pendekatan Pentahelix yang melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan komunitas.

Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar program pembinaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

Yesi Endriani: Bukittinggi Memiliki Potensi Besar Ekonomi Kreatif

Sementara itu, Anggota Komisi V DPRD Sumbar, Yesi Endriani, mengatakan Kota Bukittinggi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, terutama karena sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi bagian penting dari penggerak perekonomian masyarakat.

Menurut Yesi, aktivitas pariwisata di Bukittinggi memiliki keterkaitan erat dengan tumbuhnya berbagai sektor usaha masyarakat, mulai dari kuliner, kerajinan, fesyen, produk oleh-oleh, hingga berbagai bentuk usaha kreatif lainnya.

“Bukittinggi ini hidup dari ekonomi kreatif. Dengan adanya pariwisata, tumbuh pula ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari penggerak perekonomian kota ini,” ujar Yesi.

Ia menilai potensi lokal dan kearifan budaya masyarakat Bukittinggi maupun Kabupaten Agam harus terus dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi.

Potensi tersebut tidak cukup hanya dipertahankan sebagai produk tradisional, tetapi perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter dan identitas lokal.

Dengan demikian, produk yang dihasilkan masyarakat tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu membawa identitas daerah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun konsumen di luar Sumatera Barat.

Yesi juga mengingatkan bahwa pengembangan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh. Pembinaan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga harus menyentuh aspek kualitas, kemasan, pemasaran, komunikasi, serta kemampuan membangun citra produk.

Dorong UMKM Kuasai Digital Marketing dan Storytelling

Lebih lanjut, Yesi menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan pola belanja masyarakat.

Menurutnya, pemasaran digital atau digital marketing menjadi salah satu kebutuhan penting agar produk lokal dapat dikenal lebih luas dan tidak hanya bergantung pada penjualan secara langsung.

Pelaku UMKM juga perlu dibekali kemampuan komunikasi dan storytelling atau seni menyampaikan cerita di balik sebuah produk.

Ia mencontohkan, produk selendang yang dihasilkan masyarakat dapat memiliki nilai jual lebih tinggi apabila didukung kemasan yang menarik, kualitas yang baik, serta cerita yang mampu membangun kedekatan emosional dengan konsumen.

Sebuah produk, menurutnya, bukan sekadar barang yang diperjualbelikan, tetapi juga dapat membawa cerita mengenai budaya, tradisi, kreativitas, dan identitas masyarakat yang menghasilkannya.

Karena itu, Yesi berharap pembinaan UMKM ke depan dapat lebih terarah dan menyentuh kebutuhan nyata pelaku usaha, sehingga produk lokal mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

UMKM Binaan Didorong Bermitra dengan BUMN dan BUMD

Dalam kesempatan tersebut, Yesi juga mendorong agar UMKM yang telah mendapatkan pembinaan maupun bantuan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD dapat diarahkan menjadi UMKM binaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Menurutnya, pola kemitraan tersebut dapat membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk memperoleh pendampingan, akses permodalan, penguatan kapasitas produksi, hingga perluasan jaringan pemasaran.

Selain itu, keterlibatan BUMN dan BUMD diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada UMKM lokal untuk mengikuti berbagai kegiatan promosi dan pameran, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Yesi menilai, keberhasilan pembinaan UMKM tidak cukup diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, tetapi harus dilihat dari kemampuan usaha tersebut berkembang secara mandiri, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas pasar.

“Harapan saya, ketika ada pameran di Jakarta, setiap BUMD bisa membawa UMKM Bukittinggi untuk ikut mempromosikan produknya. Jadi, bukan hanya pemerintah yang menyiapkan anggaran, tetapi perusahaan daerah juga ikut berperan,” ungkapnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, BUMN, BUMD, dan pelaku usaha dapat menjadi kekuatan dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih produktif.

Pemko Bukittinggi Siapkan Penataan Kawasan Wisata Malam

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofi Hendria, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan sosialisasi Perda yang digagas anggota DPRD Sumbar tersebut.

Menurut Rofi, kegiatan ini memiliki arti penting dalam membangun kesamaan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat mengenai arah kebijakan serta program pembangunan daerah, khususnya dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Yesi atas kesempatan sosialisasi Perda ini. Melalui kegiatan ini, kita memiliki kesempatan menyamakan persepsi, sehingga masyarakat memahami konsep dan rencana pemerintah serta dapat mendukung pelaksanaannya bersama,” kata Rofi.

Pada kesempatan itu, Rofi juga memaparkan sejumlah agenda pengembangan pariwisata Kota Bukittinggi, salah satunya penataan instalasi lampu ekonomi kreatif di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Jalan Perintis Kemerdekaan.

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan ditargetkan rampung pada Desember mendatang.

Penataan kawasan tersebut diharapkan mampu memperkuat daya tarik wisata malam Kota Bukittinggi, sekaligus menciptakan suasana kota yang semakin menarik bagi wisatawan.

Selain meningkatkan kenyamanan dan estetika kawasan, program tersebut juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM, pedagang, serta sektor usaha yang berada di sekitar kawasan wisata.

Perkuat Sinergi untuk Mewujudkan UMKM Berdaya Saing

Melalui sosialisasi Perda Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara DPRD Sumbar, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, organisasi masyarakat, dunia usaha, serta komunitas kreatif.

Pengembangan ekonomi kreatif dinilai menjadi salah satu peluang strategis untuk memperkuat perekonomian daerah, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi lokal Sumatera Barat.

Yesi Endriani berharap UMKM di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam mampu berkembang lebih maju, tidak hanya dari sisi jumlah usaha, tetapi juga dari segi kualitas produk, inovasi, profesionalisme pengelolaan, serta kemampuan memperluas jaringan pemasaran.

Ia menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan agar pelaku UMKM dapat meningkatkan kapasitas usahanya dan memiliki kesiapan menghadapi persaingan pasar yang semakin terbuka.

Dengan dukungan regulasi, pendampingan, perlindungan HKI, pemanfaatan teknologi digital, serta kemitraan dengan BUMN dan BUMD, produk-produk unggulan Bukittinggi dan Kabupaten Agam diharapkan semakin dikenal dan mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.(A)

REALITANUSANTARA.COM

PESISIR SELATAN – Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Doni Harsiva Yandra, S.IP., ME., mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana melalui pemahaman terhadap regulasi penanggulangan bencana. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penanggulangan Bencana di Heler TEJA, Nagari Ampuan Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 200 orang masyarakat tersebut tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi mengenai kebijakan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang dialog untuk menyerap berbagai aspirasi dan persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait ancaman bencana di lingkungan tempat tinggal mereka.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Provinsi Sumbar, Acil Erbara, S.T., Camat IV Jurai Abadi Jaya, S.Sos., M.Si., Wali Nagari Ampuan terpilih Syahrial R., unsur Badan Musyawarah (Bamus), tokoh masyarakat, ninik mamak, bundo kanduang, pemuda dan pemudi, serta sejumlah unsur masyarakat setempat.

Dalam pemaparannya, Doni menjelaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat. Upaya tersebut tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi harus dimulai sejak tahap pencegahan dan pengurangan risiko.

Menurutnya, pemahaman terhadap Perda Nomor 4 Tahun 2023 penting agar masyarakat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitar. Dengan mengenali potensi ancaman sejak dini, masyarakat diharapkan mampu mengambil langkah antisipasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait apabila ditemukan kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana.

Perbaikan Sungai Batang Lumpo Menjadi Aspirasi Utama

Salah satu persoalan yang mencuat dalam kegiatan sosialisasi tersebut adalah kondisi Sungai Batang Lumpo yang menjadi perhatian masyarakat Nagari Ampuan Lumpo.

Dalam sesi dialog dan penyampaian aspirasi, sejumlah warga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi aliran sungai tersebut yang dinilai berpotensi menimbulkan ancaman bencana bagi masyarakat, terutama kawasan permukiman di sekitarnya.

Warga berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi Sungai Batang Lumpo melalui langkah perbaikan dan penanganan yang diperlukan. Mereka menginginkan adanya upaya konkret untuk mengurangi risiko bencana, sehingga keselamatan masyarakat dan lingkungan permukiman dapat lebih terlindungi.

Aspirasi tersebut menjadi salah satu perhatian penting dalam pertemuan bersama Ketua Komisi IV DPRD Sumbar itu. Masyarakat berharap persoalan sungai tidak hanya menjadi pembahasan dalam forum sosialisasi, tetapi juga dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi, BPBD, serta instansi teknis yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan dan penanganan sungai.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, kegiatan sosialisasi menjadi momentum bagi DPRD Sumbar untuk memperoleh gambaran langsung mengenai persoalan kebencanaan yang dihadapi masyarakat di daerah pemilihan.

Doni menempatkan penyerapan aspirasi sebagai bagian penting dari pelaksanaan sosialisasi Perda. Sebab, keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya ditentukan oleh keberadaan regulasi, tetapi juga membutuhkan pelaksanaan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat di lapangan.

Perkuat Sinergi Pemerintah dan Masyarakat

Sementara itu, kehadiran perwakilan BPBD Provinsi Sumbar turut memberikan pemahaman mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Masyarakat diharapkan semakin memahami karakteristik ancaman di wilayah masing-masing serta mengetahui langkah koordinasi yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Melalui sosialisasi ini, masyarakat juga didorong untuk membangun budaya sadar bencana, menjaga lingkungan, serta meningkatkan kepedulian terhadap berbagai kondisi yang berpotensi menimbulkan ancaman keselamatan.

Doni berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat komunikasi dan sinergi antara DPRD Sumbar, BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah nagari, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, penanggulangan bencana membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi lintas sektor, dan tindakan berkelanjutan. Aspirasi masyarakat mengenai perbaikan Sungai Batang Lumpo diharapkan menjadi perhatian instansi terkait agar dapat dikaji dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan serta kebutuhan teknis di lapangan.

Dengan demikian, sosialisasi Perda Nomor 4 Tahun 2023 tidak hanya menjadi kegiatan penyampaian regulasi, tetapi juga menjadi wadah mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kebijakan pemerintah daerah.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan upaya penanggulangan bencana di Kabupaten Pesisir Selatan, khususnya Nagari Ampuan Lumpo, semakin terarah, partisipatif, dan berkelanjutan demi melindungi keselamatan masyarakat serta mengurangi risiko bencana di masa mendatang. (A)

REALITANUSANTARA.COM

PADANG – Persoalan kepastian status kepegawaian dan kesejahteraan guru honorer kategori R4 dan R5 di lingkungan SMA, SMK, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) Provinsi Sumatera Barat kembali menjadi perhatian. DPRD Provinsi Sumatera Barat menyatakan komitmennya untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi para tenaga pendidik tersebut agar mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.

Komitmen itu mengemuka dalam audiensi Forum Komunikasi Guru Honorer R4 dan R5 SMA/SMK/SLB Provinsi Sumatera Barat bersama DPRD Sumbar yang berlangsung pada Kamis (5/11/2026), bertempat di Ruang Fraksi Partai Gerindra DPRD Provinsi Sumatera Barat.

Aspirasi para guru honorer tersebut diterima langsung oleh Ketua Komisi II DPRD Sumbar, Khairuddin Simanjuntak, bersama Sekretaris Komisi V DPRD Sumbar, Mario Syah Johan.

Pertemuan tersebut menjadi wadah bagi perwakilan guru untuk menyampaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan status kepegawaian, kepastian masa depan pekerjaan, serta harapan terhadap peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik yang selama ini telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

Bagi para guru honorer kategori R4 dan R5, persoalan status kepegawaian bukan sekadar persoalan administratif. Lebih dari itu, kepastian status berkaitan erat dengan keberlangsungan pekerjaan, perlindungan dalam menjalankan tugas, serta jaminan kesejahteraan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Selama ini, para guru honorer turut mengambil bagian penting dalam mendukung proses belajar mengajar di berbagai satuan pendidikan. Mereka menjalankan tanggung jawab mendidik, membimbing, dan membentuk karakter generasi muda, meskipun masih menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan status kepegawaiannya.

Karena itu, melalui audiensi tersebut, Forum Komunikasi Guru Honorer R4 dan R5 berharap DPRD Sumbar dapat menjadi jembatan dalam memperjuangkan aspirasi mereka kepada pemerintah.

Para guru menginginkan adanya perhatian dan kebijakan konkret yang mampu memberikan kejelasan terhadap kedudukan mereka dalam sistem kepegawaian, sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Penerimaan aspirasi tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan fungsi DPRD dalam menampung dan memperjuangkan kepentingan masyarakat, termasuk kelompok tenaga pendidik yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Ketua Komisi II DPRD Sumbar, Khairuddin Simanjuntak, bersama Sekretaris Komisi V, Mario Syah Johan, menunjukkan perhatian terhadap persoalan yang disampaikan para guru honorer.

Aspirasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada forum audiensi, tetapi dapat menjadi bahan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut dengan instansi pemerintah yang memiliki kewenangan dalam bidang kepegawaian dan pendidikan.

Penyelesaian persoalan guru honorer memang membutuhkan sinergi antara DPRD, pemerintah daerah, serta pemerintah pusat, terutama terkait regulasi, kemampuan anggaran, dan kebijakan penataan tenaga non-ASN.

Dengan adanya komunikasi dan koordinasi lintas lembaga, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tepat, adil, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Persoalan yang disampaikan Forum Komunikasi Guru Honorer R4 dan R5 juga menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan fasilitas sekolah, penyempurnaan kurikulum, dan peningkatan sarana pembelajaran.

Perhatian terhadap kesejahteraan dan kepastian masa depan tenaga pendidik merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun pendidikan berkualitas.

Guru merupakan salah satu unsur utama dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan. Karena itu, pengabdian mereka perlu diimbangi dengan perhatian, perlindungan, dan kebijakan yang memberikan kepastian dalam menjalankan profesinya.

Para guru yang selama ini berkontribusi mendidik generasi penerus bangsa juga membutuhkan rasa aman dan kepastian dalam menjalankan tugas.

Melalui audiensi tersebut, para guru honorer R4 dan R5 SMA, SMK, dan SLB Sumatera Barat berharap perjuangan yang telah disampaikan memperoleh tindak lanjut nyata.

Mereka menaruh harapan besar agar DPRD Sumbar dapat terus mengawal aspirasi tersebut hingga mendapatkan perhatian dari pemerintah dan menghasilkan solusi yang memberikan kejelasan bagi masa depan tenaga pendidik.

Perjuangan terhadap nasib guru honorer bukan semata-mata persoalan status pekerjaan maupun penghasilan. Lebih jauh, hal itu menyangkut penghargaan terhadap pengabdian, keberlangsungan pelayanan pendidikan, serta upaya menciptakan sumber daya manusia yang unggul.

Sebab, ketika kesejahteraan dan kepastian masa depan guru mendapatkan perhatian yang layak, maka upaya meningkatkan mutu pendidikan di Sumatera Barat juga akan semakin kuat.

Memperjuangkan nasib guru berarti turut memperjuangkan masa depan generasi bangsa. (A)

REALITANUSANTARA.COM

PADANG — Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui perubahan perilaku dan kebiasaan menjaga kebersihan. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Sumbar Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH), Sabtu (7/11/2026).

Muhidi menegaskan, setiap pembangunan harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan ketentuan tata ruang agar tidak menimbulkan persoalan baru, seperti banjir dan tanah longsor.

"Jangan sampai kawasan yang seharusnya menjadi daerah aliran sungai atau kawasan resapan justru dibangun rumah. Ketika terjadi banjir, kita malah menyalahkan hujan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air, serta berkonsultasi dengan pemerintah sebelum mendirikan bangunan. Menurutnya, perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.

Muhidi turut mendorong masyarakat mengembangkan keterampilan mengolah sampah menjadi produk bernilai guna sehingga dapat mengurangi pencemaran sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumbar, Desrizal, menjelaskan bahwa Perda Nomor 2 Tahun 2020 menjadi pedoman perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara terpadu dan berkelanjutan.

Ia memaparkan enam isu strategis lingkungan Sumbar, yakni pencemaran dan fluktuasi debit air, penurunan tutupan hutan, alih fungsi lahan, kebencanaan, pengelolaan sampah, serta degradasi keanekaragaman hayati.

Salah seorang peserta, Meza Efrina, guru SMP dari Kota Padang, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap sosialisasi perda juga menjangkau masjid-masjid dan kelompok masyarakat agar pemahaman tentang perlindungan lingkungan semakin luas.

Meza juga menekankan pentingnya pengawasan dan pemberian sanksi tegas terhadap pelanggaran aturan lingkungan.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kelestarian alam, mengendalikan pencemaran, serta mendukung pembangunan Sumatera Barat yang aman, sehat, dan berkelanjutan.(AYU)

REALITANUSANTARA.COM

JAKARTA – Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman, Aprinaldi, S.Pd., M.Pd., AIFO, menghadiri kegiatan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW bersama keluarga besar Persatuan IK LIMKOS DKI Jakarta di Gedung IK LIMKOS, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan keagamaan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan silaturahmi antara masyarakat Padang Pariaman yang berada di kampung halaman (ranah) dengan para perantau di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi agenda untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai-nilai keislaman, meningkatkan ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kehadiran Aprinaldi dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan kekeluargaan antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan organisasi perantau. Menurutnya, keberadaan masyarakat Padang Pariaman di perantauan memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dengan kampung halaman.

Dalam kesempatan tersebut, Aprinaldi berharap hubungan silaturahmi antara masyarakat ranah dan rantau dapat terus terpelihara dengan baik. Ikatan kekeluargaan yang telah terbangun selama ini diharapkan tidak hanya sebatas pertemuan dalam kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi kolaborasi nyata untuk mendukung pembangunan daerah.

Ia menilai, para perantau memiliki peran strategis dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan Kabupaten Padang Pariaman, baik melalui gagasan, pengalaman, jaringan usaha, pendidikan, maupun berbagai bentuk dukungan lainnya.

Menurutnya, komunikasi dan sinergi antara masyarakat di kampung halaman dengan para perantau perlu terus diperkuat. Dengan demikian, potensi besar yang dimiliki masyarakat Padang Pariaman, baik di ranah maupun di rantau, dapat disatukan untuk mendorong kemajuan daerah.

Semangat kebersamaan tersebut sejalan dengan ungkapan yang disampaikan dalam kegiatan itu:

"Ranah dan rantau satu dalam ikatan, bersama bersinergi untuk kemajuan kampung halaman."

Lebih jauh, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam untuk senantiasa meneladani perjalanan hidup dan akhlak Rasulullah SAW.

Nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW, seperti kejujuran, amanah, kesabaran, kepedulian terhadap sesama, serta sikap saling menghormati, merupakan pedoman penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut juga menjadi landasan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, memperkuat persaudaraan, dan menciptakan lingkungan masyarakat yang saling mendukung.

Melalui kegiatan ini, diharapkan keluarga besar IK LIMKOS DKI Jakarta semakin solid dalam menjaga persatuan dan kebersamaan, sekaligus terus berperan aktif dalam menjalin komunikasi dengan masyarakat serta pemerintah Kabupaten Padang Pariaman.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi pengingat bahwa jarak geografis bukanlah penghalang untuk menjaga persaudaraan. Sebaliknya, ikatan keagamaan, adat, budaya, dan kekeluargaan harus menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat Padang Pariaman di mana pun berada.

Dengan terpeliharanya hubungan baik antara ranah dan rantau, diharapkan lahir berbagai gagasan dan kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta berkontribusi terhadap pembangunan Kabupaten Padang Pariaman ke depan. (Ayu)

REALITANUSANTARA.COM

PADANG — Pengelolaan dan pemanfaatan aset milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menjadi perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar. Melalui Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Aset, DPRD menemukan sedikitnya 22 aset daerah berupa tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan secara optimal atau berstatus bermasalah, dengan total nilai tercatat mencapai Rp79,02 miliar.

Temuan tersebut mengindikasikan masih adanya persoalan mendasar dalam tata kelola kekayaan daerah. Mulai dari aset yang terbengkalai, penguasaan lahan oleh pihak lain, ketidakjelasan dokumen kepemilikan, hingga bangunan yang mengalami kerusakan berat dan proyek pembangunan yang belum diselesaikan.

Kondisi ini dinilai membutuhkan penanganan serius dan langkah konkret dari pemerintah daerah. Sebab, aset yang tidak dikelola dengan baik bukan hanya berpotensi menimbulkan kerugian daerah, tetapi juga menyebabkan hilangnya peluang untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Temuan tersebut disampaikan Ketua Pansus Pengelolaan Aset DPRD Sumbar, Doni Harsiva Yandra, dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar, Jumat (6/11/2026).

Berdasarkan hasil inventarisasi dan pembahasan Pansus, dari total aset senilai Rp79,02 miliar tersebut, sebesar Rp54,52 miliar merupakan aset kategori tidak produktif atau idle. Sementara itu, aset yang masuk kategori bermasalah mencapai Rp24,50 miliar.

Pansus menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui pembenahan administrasi dan pencatatan inventaris semata. Diperlukan penyelesaian secara menyeluruh, terutama menyangkut kepastian status hukum, pengamanan fisik aset, penertiban penguasaan lahan, serta optimalisasi pemanfaatan aset agar memberikan nilai tambah bagi daerah.

Sejumlah aset milik Pemprov Sumbar yang menjadi perhatian Pansus tersebar di beberapa wilayah. Di antaranya tanah eks Penghubung Wilayah I di Kota Bukittinggi, kolam air tawar di kawasan Harau, tanah bekas Pelatihan Kesehatan di Lubuk Alung, serta gedung bangsal penyakit dalam RSUD Prof. Dr. H. Muhammad Yamin, SH.

Selain itu, persoalan juga ditemukan pada Rumah Dinas Kehutanan di Bukittinggi. Sebanyak 25 unit rumah yang sebelumnya merupakan rumah dinas Golongan III diketahui telah bersertifikat atas nama masing-masing penghuni.

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan penelusuran lebih lanjut, terutama untuk memastikan kesesuaian proses administrasi dan status kepemilikan aset berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Persoalan lainnya terdapat pada aset bekas Dinas Pertanian yang berlokasi di Jalan Raden Saleh, Kota Padang. Aset tersebut masih menghadapi kendala dokumen kepemilikan serta penguasaan lahan oleh sejumlah pensiunan.

Pansus memandang persoalan semacam ini harus segera dituntaskan melalui inventarisasi ulang, pemeriksaan dokumen hukum, serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Penanganan yang lambat dikhawatirkan semakin memperumit proses penyelesaian aset, terutama apabila menyangkut penguasaan fisik oleh pihak lain dan belum adanya kepastian administrasi kepemilikan.

Tidak hanya persoalan aset tanah dan bangunan, Pansus Pengelolaan Aset DPRD Sumbar juga menyoroti belum tuntasnya proses likuidasi dua badan usaha milik daerah (BUMD), yakni PT Andalas Tuah Sakato (ATS) dan PT Dinamika Sumbar Jaya (DSJ).

Kedua perusahaan tersebut sebelumnya telah diputuskan untuk dilikuidasi melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 29 Juni 2016.

Namun, hingga November 2026, atau hampir sepuluh tahun sejak keputusan tersebut ditetapkan, proses likuidasi keduanya belum juga diselesaikan.

Mandeknya proses likuidasi ini menjadi perhatian DPRD karena menyangkut kejelasan penyelesaian kewajiban perusahaan, pertanggungjawaban keuangan, serta kepastian status aset yang masih berkaitan dengan kedua badan usaha tersebut.

Pansus menilai penyelesaian persoalan tersebut tidak boleh terus berlarut-larut. Pemerintah daerah perlu memastikan seluruh tahapan likuidasi berjalan sesuai ketentuan hukum dan prinsip akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.

Selain ATS dan DSJ, DPRD Sumbar turut menyoroti persoalan penyertaan modal pemerintah daerah pada PT Andalas Rekasindo Pratama (ARP) dan PT Padang Industrial Park (PIP).

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tanah seluas 108 hektare yang berkaitan dengan penyertaan modal tersebut.

Hingga kini, masih diperlukan kejelasan menyangkut status hukum aset, komposisi kepemilikan saham, kewajiban masing-masing pemegang saham, serta pertanggungjawaban keuangan perusahaan.

Menurut Pansus, ketidakjelasan berbagai aspek tersebut harus segera dituntaskan agar tidak menimbulkan persoalan hukum dan keuangan daerah di kemudian hari.

Atas berbagai temuan tersebut, Pansus Pengelolaan Aset DPRD Sumbar menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada Gubernur Sumatera Barat.

Salah satu rekomendasi utama adalah perlunya pembentukan unit pelaksana teknis (UPT) khusus yang menangani pengelolaan aset daerah.

Alternatif lainnya, pemerintah provinsi diminta mengoptimalkan pengelolaan aset melalui kerja sama dengan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) dan/atau membentuk perusahaan perseroan daerah (Perseroda) khusus pengelolaan aset.

Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem pengelolaan aset yang lebih profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi kekayaan daerah.

Pansus juga merekomendasikan agar Pemprov Sumbar segera membentuk tim terpadu penyelesaian aset bermasalah yang berada langsung di bawah koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat.

Tim tersebut diharapkan memiliki tugas, target, dan tahapan kerja yang jelas, terukur, serta didukung alokasi anggaran yang memadai.

Dengan adanya tim terpadu, penyelesaian aset tidak lagi berjalan secara parsial di masing-masing organisasi perangkat daerah, melainkan dilakukan melalui koordinasi dan pengawasan yang lebih terstruktur.

Untuk memastikan rekomendasi berjalan efektif, Pemprov Sumbar juga diminta menyampaikan laporan perkembangan tindak lanjut kepada DPRD setiap empat bulan.

Sementara itu, khusus persoalan likuidasi PT ATS dan PT DSJ serta penyertaan modal pada PT ARP dan PT PIP, Pansus merekomendasikan pembentukan pansus khusus guna melakukan pendalaman dan mendorong penyelesaian secara menyeluruh.

Seluruh rekomendasi Pansus Pengelolaan Aset tersebut disetujui dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar yang dipimpin Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, didampingi Wakil Ketua DPRD Muhammad Iqra Chinsa Putra.

Persetujuan tersebut kemudian ditetapkan menjadi rekomendasi resmi DPRD Provinsi Sumatera Barat melalui Keputusan Nomor 20/SB/2026 tentang Rekomendasi DPRD Provinsi Sumatera Barat terhadap Pengelolaan Aset Pemerintah Daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Muhidi menegaskan bahwa pengelolaan aset daerah merupakan persoalan strategis yang harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh jajaran pemerintah provinsi.

Menurutnya, aset pemerintah bukan sekadar barang inventaris yang dicatat dalam laporan keuangan, melainkan kekayaan daerah yang harus dijaga, diamankan, dan dimanfaatkan secara optimal.

Aset yang selama ini belum produktif seharusnya dapat dikelola sehingga memberikan manfaat ekonomi dan berkontribusi terhadap peningkatan PAD.

Karena itu, Muhidi menekankan pentingnya keseriusan pemerintah daerah dalam menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang telah disepakati bersama.

DPRD Sumbar, katanya, akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan rekomendasi tersebut benar-benar dilaksanakan dan tidak berhenti sebatas laporan administratif maupun dokumen formal.

Pengamanan aset, kepastian hukum, serta optimalisasi pemanfaatannya menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan bertanggung jawab.

Wagub Vasko Sampaikan Ranperda Perubahan Pengelolaan Keuangan Daerah.

Selain membahas rekomendasi Pansus Pengelolaan Aset, Rapat Paripurna DPRD Sumbar juga mengagendakan penyampaian Nota Penjelasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Nota penjelasan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy.

Dalam pemaparannya, Vasko menjelaskan bahwa perubahan regulasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menyesuaikan ketentuan pengelolaan keuangan daerah dengan perkembangan kebijakan nasional.

Penyesuaian tersebut terutama berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Harmonisasi Kebijakan Fiskal Nasional.

Selain mengikuti perkembangan regulasi nasional, perubahan Perda juga didasarkan pada hasil evaluasi terhadap pelaksanaan aturan sebelumnya.

Penyempurnaan regulasi diperlukan agar mekanisme pengelolaan keuangan daerah semakin tertib, transparan, akuntabel, serta memberikan kepastian hukum bagi seluruh perangkat daerah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Terdapat enam aspek utama yang menjadi sasaran perubahan dalam Ranperda tersebut.

Pertama, penyesuaian ketentuan umum dan peristilahan agar selaras dengan regulasi terbaru.

Kedua, penambahan rincian klasifikasi Belanja Modal dan Bantuan Keuangan sehingga penganggaran dapat dilakukan secara lebih jelas dan terstruktur.

Ketiga, penegasan sumber Penerimaan Pinjaman Daerah sebagai bagian dari penyempurnaan mekanisme pembiayaan daerah.

Keempat, penyempurnaan mekanisme penyusunan dan pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS).

Kelima, penyederhanaan sistematika pelaporan serta pertanggungjawaban keuangan daerah agar lebih efektif dan mudah dipahami.

Keenam, penguatan tata cara pelaksanaan Utang Daerah, termasuk mekanisme yang berkaitan dengan kondisi darurat bencana.

Menanggapi penyampaian nota penjelasan tersebut, Muhidi menegaskan bahwa pembahasan Ranperda perubahan pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara cermat dan mendalam.

Menurutnya, regulasi yang dihasilkan harus mampu menjawab kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan sekaligus menjaga keberlanjutan kemampuan fiskal daerah.

Prinsip kehati-hatian, transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan harus menjadi landasan utama dalam pembahasan.

Hal ini penting agar kebijakan pengelolaan keuangan daerah tidak hanya memenuhi kebutuhan administratif, tetapi juga dapat diterapkan secara efektif oleh seluruh perangkat daerah.

Dengan demikian, setiap kebijakan penganggaran dan pembiayaan dapat dilaksanakan secara terukur serta memberikan manfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.

Dalam rapat paripurna yang sama, DPRD Sumbar juga menyetujui perubahan jadwal pelaksanaan reses anggota DPRD Masa Persidangan Pertama.

Jadwal reses yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada 11–19 Desember 2026 dimajukan menjadi 5–14 Desember 2026.

Perubahan tersebut dilakukan untuk memberikan waktu yang lebih memadai dalam menyelesaikan administrasi dan pertanggungjawaban kegiatan sebelum penutupan buku akhir tahun.

Reses merupakan salah satu agenda penting anggota DPRD untuk turun langsung ke daerah pemilihan, menyerap aspirasi masyarakat, serta menghimpun berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah daerah.

Melalui kegiatan tersebut, aspirasi masyarakat diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan daerah.

Persetujuan rekomendasi Pansus Pengelolaan Aset, penyampaian Nota Penjelasan Ranperda perubahan pengelolaan keuangan daerah, serta penyesuaian jadwal reses menjadi tiga agenda penting dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar kali ini.

Temuan 22 aset bermasalah dan tidak produktif senilai Rp79,02 miliar menjadi pengingat bahwa pengelolaan kekayaan daerah membutuhkan sistem pengawasan dan penanganan yang lebih serius.

Begitu pula dengan persoalan likuidasi dua BUMD yang belum selesai hampir satu dekade serta ketidakjelasan penyertaan modal pada sejumlah perusahaan daerah.

DPRD Sumbar berharap seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah provinsi melalui langkah nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pembenahan pengelolaan aset dan penyempurnaan tata kelola keuangan daerah harus berjalan beriringan. Keduanya merupakan fondasi penting untuk menjaga kekayaan daerah, memperkuat kapasitas fiskal, meningkatkan PAD, serta memastikan setiap sumber daya milik pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel, aset daerah yang selama ini belum produktif diharapkan dapat menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi Sumatera Barat sekaligus mendukung percepatan pembangunan daerah.(Ayu)

REALITANUSANTARA.COM

PADANG – Penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif, pelaku IKM dituntut tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki identitas usaha yang kuat, legalitas yang jelas, serta perlindungan hukum terhadap merek produknya.

Komitmen untuk memperkuat sektor tersebut kembali ditegaskan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Fasilitasi Pendaftaran Merek Industri Kecil dan Menengah (IKM) Angkatan I yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar, pada 4–5 November 2026 di Hotel Kawana Padang.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat, Novrial, SE., M.Ak. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memberikan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha agar produk lokal semakin memiliki daya saing, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.

Dalam kegiatan tersebut, Disperindag Sumbar menghadirkan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, H. Irwan Zuldani, SE., MM., sebagai narasumber. Ia menyampaikan materi bertajuk “Peran Pemerintah dalam Penguatan Daya Saing Produk UKM.”

Dalam pemaparannya, Irwan Zuldani menegaskan bahwa pengembangan usaha kecil dan menengah tidak boleh hanya berorientasi pada pemberian bantuan modal. Lebih dari itu, diperlukan strategi pembinaan yang menyeluruh dan berkelanjutan agar pelaku usaha mampu tumbuh, berkembang, serta mandiri menghadapi berbagai tantangan dunia usaha.

Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang kondusif melalui kebijakan yang berpihak kepada pelaku IKM, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan pengembangan produk, kemudahan legalitas usaha, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pembukaan akses pemasaran yang lebih luas.

Ia menilai, berbagai produk lokal Sumatera Barat memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan daerah. Namun, potensi tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas, inovasi, pengemasan, strategi pemasaran, serta penguatan identitas merek.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Irwan Zuldani adalah masih pentingnya meningkatkan kesadaran pelaku IKM terhadap perlindungan merek produk.

Menurutnya, merek tidak sekadar menjadi nama atau tanda pengenal suatu produk. Merek merupakan identitas sekaligus aset ekonomi yang mempunyai nilai strategis dalam membangun kepercayaan konsumen, membedakan produk dari pesaing, serta memperkuat posisi usaha di tengah persaingan pasar.

Produk yang memiliki kualitas baik perlu didukung dengan identitas merek yang jelas dan terlindungi secara hukum. Dengan demikian, pelaku usaha mempunyai fondasi yang lebih kuat untuk mengembangkan bisnisnya dan memperluas jangkauan pemasaran.

Pendaftaran merek juga menjadi langkah penting untuk memberikan kepastian perlindungan hukum terhadap identitas produk sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Pelaku usaha harus mulai memahami bahwa merek merupakan aset penting. Produk yang berkualitas perlu didukung identitas yang kuat dan perlindungan hukum agar mampu berkembang serta bersaing di pasar yang lebih luas," demikian substansi pesan yang disampaikan Irwan dalam kegiatan tersebut.

Ia juga mendorong agar pelaku IKM tidak lagi memandang pendaftaran merek sebagai sesuatu yang rumit atau sekadar kewajiban administratif. Sebaliknya, perlindungan merek harus dipahami sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun dan mengembangkan usaha.

Dengan memiliki merek yang terdaftar, pelaku usaha diharapkan semakin percaya diri dalam memasarkan produknya, membangun reputasi bisnis, serta mengembangkan kerja sama dengan berbagai mitra usaha.

Lebih lanjut, Irwan Zuldani menekankan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah daerah, lembaga legislatif, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat sektor industri kecil dan menengah.

Menurutnya, pengembangan IKM tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar persoalan yang dihadapi pelaku usaha, mulai dari keterbatasan pengetahuan, permodalan, teknologi produksi, legalitas, hingga pemasaran, dapat ditangani secara terarah.

Pemerintah daerah diharapkan terus menghadirkan program pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. Sementara itu, lembaga legislatif memiliki peran dalam mendorong kebijakan dan penganggaran yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor IKM.

Di sisi lain, pelaku usaha juga dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas, berani berinovasi, menjaga kualitas produk, serta mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.

Irwan berharap, melalui kolaborasi yang kuat, IKM di Sumatera Barat dapat berkembang menjadi sektor ekonomi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Pelaksanaan Bimtek dan Fasilitasi Pendaftaran Merek IKM ini merupakan salah satu bentuk konkret perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terhadap pengembangan industri lokal.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai pentingnya perlindungan merek, sekaligus mendapatkan pendampingan dalam proses pendaftaran merek produk.

Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya legalitas dan profesionalitas dalam menjalankan kegiatan bisnis.

Dengan demikian, pelaku IKM tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga mampu membangun usaha dengan tata kelola yang lebih baik, memiliki identitas produk yang jelas, serta memenuhi aspek perlindungan hukum.

Program Bimtek dan fasilitasi pendaftaran merek tersebut dilaksanakan dalam dua angkatan.

Angkatan I berlangsung pada 4–5 November 2026, sedangkan Angkatan II dijadwalkan pada 6–7 November 2026. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Hotel Kawana Padang, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.

Program pembinaan dan fasilitasi pendaftaran merek ini diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam memperkuat struktur industri daerah sekaligus mendorong transformasi IKM Sumatera Barat menjadi sektor usaha yang lebih modern, inovatif, dan kompetitif.

Sumatera Barat memiliki beragam produk potensial yang dapat dikembangkan sebagai komoditas unggulan, mulai dari produk makanan dan olahan pangan, kerajinan, fesyen, hingga berbagai produk berbasis potensi lokal.

Namun, untuk mampu bersaing di pasar yang lebih luas, produk-produk tersebut harus didukung standar kualitas yang konsisten, kemasan menarik, merek yang kuat, legalitas usaha, serta strategi pemasaran yang tepat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pelaku IKM yang memahami pentingnya membangun merek sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha jangka panjang.

Dorongan yang disampaikan Anggota DPRD Sumbar Irwan Zuldani tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan industri lokal membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan serta kesiapan pelaku usaha untuk terus beradaptasi dan berinovasi.

Dengan penguatan perlindungan merek, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pemasaran, IKM Sumatera Barat diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi persaingan pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar nasional hingga internasional.

Produk lokal harus mampu naik kelas. Bukan hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga memiliki identitas, kualitas, dan daya saing yang dapat dibanggakan di tingkat nasional maupun global.

Saya juga bisa menyusun berita ini menjadi versi headline media nasional yang lebih tajam dan profesional, dengan penekanan pada peran Irwan Zuldani dalam mendorong kemajuan ekonomi kerakyatan Sumatera Barat.(Ayu)

REALITANUSANTARA.COM

PADANG — Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi, mendorong para siswa untuk mengenali dan memetakan potensi diri sejak dini sebagai langkah penting dalam menentukan arah pendidikan, mengembangkan kompetensi, serta mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Menurut Muhidi, pemahaman terhadap minat, bakat, dan kemampuan pribadi menjadi modal utama bagi generasi muda dalam menentukan pilihan pendidikan yang sesuai dengan tujuan hidup dan kebutuhan dunia kerja. Dengan mengenali potensi diri sejak bangku sekolah, siswa diharapkan mampu merancang masa depan secara lebih terarah dan tidak sekadar mengikuti pilihan orang lain.

Pesan tersebut disampaikan Muhidi saat membuka kegiatan Pelatihan Literasi Tingkat SMA yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Padang, Selasa (3/11/2026). Kegiatan tersebut diikuti hampir 100 peserta yang berasal dari sejumlah sekolah menengah atas di Kota Padang.

Dalam kesempatan itu, Muhidi menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter, mengembangkan keterampilan, serta mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan kehidupan dan persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Muhidi menjelaskan, salah satu langkah penting untuk meraih kesuksesan adalah memahami kemampuan diri sendiri sebelum mengambil keputusan, terutama dalam menentukan jalur pendidikan dan bidang keahlian yang akan ditekuni.

Menurutnya, setiap siswa memiliki minat, bakat, dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, proses pendidikan perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta didik agar ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ia menilai, kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja atau link and match perlu menjadi perhatian sejak dini. Hal tersebut penting agar lulusan pendidikan memiliki kompetensi yang relevan dengan bidang pekerjaan yang akan dimasuki maupun kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Muhidi mengingatkan bahwa keputusan memilih pendidikan tidak seharusnya dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Siswa perlu memahami kelebihan dan kekurangan diri, mengenali bidang yang diminati, serta mencari informasi mengenai peluang pendidikan dan pekerjaan pada masa mendatang.

Dengan demikian, proses belajar tidak hanya dijalani sebagai kewajiban untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi menjadi bagian dari upaya mempersiapkan masa depan.

"Karena itu, penting bagi setiap siswa untuk mengenali potensi diri. Jangan sampai kita memilih sesuatu tanpa mengetahui kemampuan dan minat yang dimiliki. Kenali diri sendiri agar apa yang dipelajari sejalan dengan tujuan masa depan," ujar Muhidi.

Lebih lanjut, Muhidi menjelaskan bahwa pemetaan potensi diri perlu dilakukan oleh seluruh siswa, baik yang menempuh pendidikan di sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun sekolah menengah atas (SMA).

Bagi siswa SMK, pengenalan terhadap karakteristik dunia kerja perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran sejak awal. Siswa harus memahami bidang keahlian yang dipelajari, peluang kerja yang tersedia, serta keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri.

Dengan pemahaman tersebut, peserta didik dapat mempersiapkan diri untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang ingin digeluti setelah lulus.

Sementara itu, siswa SMA juga perlu mulai merencanakan langkah setelah menyelesaikan pendidikan. Pilihan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi maupun mempersiapkan diri memasuki dunia kerja harus dipertimbangkan berdasarkan minat, kemampuan, dan tujuan masing-masing.

Perencanaan sejak dini dinilai dapat membantu siswa menentukan prioritas belajar, memilih bidang pendidikan yang sesuai, serta memanfaatkan kesempatan pengembangan diri secara lebih efektif.

Muhidi berharap para siswa tidak hanya berfokus pada kelulusan, tetapi juga memiliki gambaran yang jelas mengenai arah pendidikan dan karier yang ingin dicapai.

Menurutnya, generasi muda perlu dibekali kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana agar mampu menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman.

Selain menekankan pentingnya mengenali potensi diri, Muhidi juga mengingatkan para siswa agar membangun kebiasaan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ia menilai, literasi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui kegiatan membaca, siswa dapat memperluas wawasan, memperoleh pengetahuan baru, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta memahami berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Menurut Muhidi, kemampuan literasi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta menggunakan informasi secara tepat dalam mengambil keputusan.

Oleh karena itu, budaya membaca perlu ditanamkan secara konsisten sejak usia sekolah, baik melalui pembelajaran di kelas maupun kebiasaan belajar secara mandiri.

Muhidi mendorong para siswa agar meluangkan waktu setidaknya 15 menit setiap hari untuk membaca buku, khususnya bacaan yang dapat menambah pengetahuan dan memperkaya wawasan.

Ia menilai, kebiasaan sederhana tersebut akan memberikan manfaat apabila dilakukan secara rutin. Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh, semakin besar pula kesempatan siswa untuk mengembangkan cara berpikir, memahami persoalan, dan meningkatkan kemampuan diri.

"Ingin sukses, tumbuhkan minat baca. Paksakan diri membaca minimal 15 menit setiap hari, terutama buku-buku yang bisa menambah ilmu dan wawasan. Jadikan membaca sebagai kebiasaan," pesannya.

Muhidi juga berharap pelatihan literasi tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat semangat membaca di kalangan pelajar. Dengan meningkatnya minat baca, siswa diharapkan mampu membangun kebiasaan belajar yang lebih mandiri dan tidak hanya mengandalkan materi yang diberikan di sekolah.

Dalam arahannya, Muhidi turut mengingatkan bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan meraih masa depan yang lebih baik.

Karena itu, para siswa didorong untuk terus menuntut ilmu, memperluas wawasan, dan tidak cepat merasa puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

Menurutnya, kemauan untuk terus belajar harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter yang baik. Kecerdasan intelektual saja tidak cukup apabila tidak disertai kedisiplinan, kerja keras, sikap menghormati guru, serta kemampuan menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai, guru memiliki peran penting dalam mendampingi siswa selama proses pendidikan. Oleh sebab itu, para pelajar perlu menghargai bimbingan guru sekaligus menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti pembelajaran.

Pengetahuan yang diperoleh di sekolah juga diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan, membantu sesama, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Muhidi menekankan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan, melainkan juga oleh kemauan untuk berusaha, konsistensi dalam belajar, dan kesungguhan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dorongan untuk mengenali potensi diri dan meningkatkan budaya literasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja, siswa dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, serta terus meningkatkan kompetensi.

Pendidikan yang disertai penguatan literasi dan perencanaan masa depan diharapkan mampu membantu peserta didik menentukan pilihan secara lebih matang, baik dalam melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Melalui kegiatan Pelatihan Literasi Tingkat SMA tersebut, Muhidi berharap para siswa semakin termotivasi untuk mengembangkan kemampuan diri, membangun kebiasaan membaca, dan mempersiapkan masa depan melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan bahwa masa depan perlu direncanakan sejak dini. Dengan mengenali potensi diri, menekuni bidang yang sesuai, menghargai guru, serta menjadikan membaca sebagai kebiasaan, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi sumber daya manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun bangsa.

Bagi Muhidi, mengenali potensi diri dan membangun budaya literasi bukan sekadar kebiasaan selama menempuh pendidikan, melainkan fondasi penting untuk membentuk generasi muda Sumatera Barat yang mandiri, kompeten, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)


REALITANUSANTARA.COM

LAMPUNG – Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Lampung terus memperkuat komitmen dalam menciptakan kondisi lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar. Upaya tersebut menjadi bagian dari pelayanan kepolisian kepada masyarakat sekaligus mendorong meningkatnya kesadaran dan kepatuhan pengguna jalan.

Melalui pesan yang disampaikan Dirlantas Polda Lampung, Kombes Pol. M. Reza C.A.S., S.I.K., S.H., M.H., masyarakat diajak untuk bersama-sama mewujudkan budaya berlalu lintas yang mengutamakan keselamatan.

" Bersama Wujudkan Lalu Lintas yang Aman, Tertib, dan Lancar," demikian pesan yang disampaikan dalam publikasi Ditlantas Polda Lampung.

Pesan tersebut menegaskan bahwa terciptanya keamanan dan ketertiban lalu lintas tidak hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat.

Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, penggunaan perlengkapan keselamatan, serta sikap saling menghargai antarpengguna jalan merupakan bagian penting dalam menekan potensi kecelakaan.

Di bawah kepemimpinan Kombes Pol. M. Reza C.A.S., Ditlantas Polda Lampung diharapkan terus menghadirkan pelayanan lalu lintas yang profesional, humanis, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Melalui sinergi antara kepolisian dan masyarakat, budaya tertib berlalu lintas diharapkan semakin kuat sehingga tercipta lingkungan jalan raya yang lebih aman, nyaman, dan berkeselamatan bagi seluruh pengguna jalan.

Keselamatan berlalu lintas bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama.


REALITANUSANTARA.COM

PADANG PARIAMAN – Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman, Aprinaldi, S.Pd., M.Pd., AIFO, menghadiri acara Batagak Kudo-Kudo pembangunan Mushala Nurul Ikhlas yang berlokasi di Korong Sungai Jilatang, Nagari Campago Barat, Kecamatan V Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Senin (2/11/2026).

Kehadiran Aprinaldi dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pembangunan sarana ibadah sekaligus upaya memperkuat kehidupan keagamaan dan kebersamaan masyarakat di lingkungan nagari.

Tradisi Batagak Kudo-Kudo merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembangunan rumah ibadah di tengah masyarakat Minangkabau. Kegiatan ini umumnya dilaksanakan ketika pembangunan bangunan telah mencapai tahap pemasangan rangka atap atau kuda-kuda, sebagai penanda bahwa proses pembangunan telah memasuki salah satu tahapan penting.

Selain memiliki makna dalam proses pembangunan fisik, kegiatan tersebut juga mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, serta kepedulian masyarakat terhadap keberadaan sarana ibadah di lingkungan mereka.

Pembangunan Mushala Nurul Ikhlas di Korong Sungai Jilatang diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menyediakan tempat ibadah yang nyaman dan layak bagi warga setempat.

Keberadaan mushala tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah salat, tetapi juga memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur'an, pembinaan generasi muda, serta penguatan hubungan sosial di tengah masyarakat.

Melalui pembangunan sarana ibadah tersebut, masyarakat diharapkan semakin mudah menjalankan berbagai aktivitas keagamaan sekaligus membangun lingkungan yang religius, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai kebersamaan.

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, mushala juga memiliki kedudukan penting dalam menjaga tradisi keagamaan dan membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah menjadi tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Kehadiran Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman dalam kegiatan Batagak Kudo-Kudo Mushala Nurul Ikhlas juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara unsur pimpinan daerah dan masyarakat.

Partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti ini merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi serta memperkuat kebersamaan dalam mendukung berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pembangunan fasilitas keagamaan.

Pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat memiliki nilai strategis karena tidak hanya menghasilkan fasilitas fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan pemanfaatannya.

Semangat gotong royong yang tercermin dalam kegiatan Batagak Kudo-Kudo diharapkan terus terpelihara, sehingga pembangunan di tingkat nagari dapat berjalan seiring dengan penguatan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Dengan dilaksanakannya kegiatan Batagak Kudo-Kudo tersebut, pembangunan Mushala Nurul Ikhlas diharapkan dapat berlanjut hingga selesai dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat Korong Sungai Jilatang serta warga sekitarnya.

Dukungan dari berbagai pihak, baik masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, maupun unsur pemerintahan, menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong penyelesaian pembangunan sarana ibadah tersebut.

Kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada proses pembangunan fisik semata, tetapi juga berlanjut dalam memakmurkan mushala melalui kegiatan ibadah berjamaah, pendidikan keagamaan, dan aktivitas sosial kemasyarakatan.

Pembangunan Mushala Nurul Ikhlas di Nagari Campago Barat menjadi gambaran pentingnya semangat kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui gotong royong dan kepedulian bersama, keberadaan sarana ibadah diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi kehidupan keagamaan serta memperkuat persatuan masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman.(Ayu)

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.