Bedah dan Peluncuran Buku Autobiografi: 70 Tahun Makmur Syarif

REALITANUSANTARA.COM

Padang - Buku autobiografi 70 tahun Prof. Dr. Makmur Syarif, SH, M.Ag, yang juga guru besar Fakultas Syari’ah UIN Imam Bonjol Padang diluncurkan dan dibedah oleh dua orang intelektual ternama dilevel nasional. Dua tokoh itu adalah guru besar yakni Prof. Dr. Azyumardi Azra dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Prof. Dr. Syufiarma Marsidin, M.Pd dari Universitas Negeri Padang (UNP).


Dalam bedah buku yang berlangsung Selasa, (14/9) di aula Mansur Dt Nagari Basa Kampus UIN IB Lubuk Lintah ini, dihadiri oleh Rektor diwakili Warek III Dr. Ikhwan, SH, M.Ag dan Warek I Hetti Waluati Triana dan Warek II Prof. Dr. Firdaus, M.Ag, Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Sobhan dan Dekan Saintek Dr. Yasrul Huda dan tokoh intelektual lainnya, seperti guru besar Unand Prof. Dr. Yaswirman, MA.  Juga hadir dalam acara  guru Makmur Syarif saat sekolah di MTI Candung Agam Buya Mawardi Gani dan Dosen beliau saat kuliah di IAIN Bukittinggi Muslim Mulyani serta para sahabat saat sekolah dulu.

Menurut Azyumardi Azra, Makmur Syarif adalah sosok intelektual yang gigih dan sangat peduli dengan pendidikan agama. Sehingga tidak bisa dipungkiri kalau ayah beliau Luthan Syarif tidak mengizinkan pendidikannya  di sekolah umum. “Makmur harus sekolah di sekolah agama. Mau jadi apa nantinya jangan dipikirkan sekarang. Cari ilmu dulu.  Karena kalau sudah berilmu apalagi ilmu agamanya sudah baik dengan akhalak yang tinggi, maka pekerjaan yang mencari kita. Itu kata kuncinya.

Makmur Syarif yang juga terlahir dan dibesarkan dari keluarga “buya” dan disebut dari golongan kaum santri atau di Minangkabau disebut dengan “kaum agama atau juga orang surau dan orang siak, maka tidak mengherankan putra dari pasangan Luthan Syarif dengan Siti Mukmin setelah menjadi serorang Profesor dikenal dengan “intelektualitas dan etosreligio-sosioal anak Madrasah.

Ditambahkan Azyumardi Azra Guru besar kelahiran Lubuk Alung  Padang Pariaman ini, ada alam tradisi keagamaan yang berbasis surau atau madrasah sering dipandang sudah ketinggalan zaman, malah tidak menjanjikan apa-apa kecuali hanya menjadi labia atau pakiah saringgik. Anggapan itu dibantah oleh Prof. Makmur. Buktinya kalau beliau berpendidikan berbasis  surau, ternyata bisa menjadi seorang intelektual di bidang Hukum Islam. Karirnya pun bisa sampai pada puncaknya yakni menjadi Rektor ke-15 saat masih berstatus IAIN Imam Bonjol Padang,’’katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof Syufiarma Marsidin. “Makmur  Syarif yang saya kenal kalau beliau adalah seorang intelektual yang peduli dengan pendidikan agama Islam. Buktinya, dalam pola mentransfer ilmu, kepada anak didik (mahasiswa) di kampus, sering sekali ke-ilmuannya disandingkan dengan beberapa pengalaman cara mendapatkan pendidikannya di pesantren. Ilmu itu juga di terapkan di UIN Imam Bonjol Padang.

Karir ke-ilmuan dan akademis dalam lingkungan luas memunculkan motivasi baru antara Makmur Syarif dengan berbagai kalangan. Sehingga saat ini walau sudah 70 tahun, pengalaman karirnya di madrasah, kehidupan sosial dan serta ke-agamaan ternyata masih dibutuhkan banyak  orang. Sehingga beliau sering terlibat dalam organisasi kemasyarakatan. Keilmuannya sangat ditunggu oleh banyak orang terutama yang haus akan pendidikan agama,’’terangnya.

Sementara itu, dua orang guru dan dosen dari Makmur Syarif seperti Mawardi Gani dan Muslim Mulyani, menyebutkan bisanya anak didik saya ini mencapai ilmu yang tinggi, kata kuncinya adalah beliau adalah orang yang patuh serta santun pada kedua orang tuanya. Dan sangat hormat pada guru-gurunya saat di sekolah. Agaknya inilah yang bisa membuatnya bisa mencapai karir pendidikannya hingga menjadi seorang Profesor yang selalu taat dengan agama. Tentunya, bagaimana proses jalan hidupnya dalam karir itu, layak dijadikan contoh dan ketauladanan bagi generasi muda saat ini dan masa mendatang,’’katanya.
( RF/nal/HMS)


Labels:

Post a Comment

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.