Kepala Bidang Pendidikan PAUD Kota Padang, Syafizal Syair menegaskan bahwa program pembangunan yang ideal adalah program jangka panjang.

REALITANUSANTARA.COM

PADANG – Kepala Bidang Pendidikan PAUD Kota Padang, Syafizal Syair menegaskan bahwa program pembangunan yang ideal adalah program jangka panjang yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan selama masih relevan. Setelah suatu program selesai, tindak lanjut perlu dilakukan melalui penyusunan serta penerapan kurikulum pengembangan.

Ia menyampaikan bahwa pengembangan lembaga pendidikan pada jenjang menengah dan atas relatif stabil. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berada pada level paling bawah dan masih menghadapi berbagai persoalan serius, salah satunya hilangnya status operasional.

“Dari sebelumnya tercatat 101 PAUD, saat ini sebagian telah kehilangan status operasional (OPS). Bahkan, ada pula calon PAUD yang berpotensi mengalami hal yang sama,” ujar Syafizal. Untuk itu, pemerintah daerah terus melakukan pembinaan intensif agar PAUD yang masih aktif tidak berhenti beroperasi, serta mengupayakan pengaktifan kembali PAUD yang telah tutup.

Menurutnya, salah satu penyebab utama hilangnya PAUD adalah faktor sumber daya manusia. Mayoritas pendiri dan pengelola PAUD telah berusia lanjut, sementara minat generasi muda untuk mengelola maupun menjadi tenaga pendidik PAUD masih sangat rendah. Rendahnya minat tersebut tidak terlepas dari persoalan kesejahteraan, mengingat gaji atau insentif guru PAUD tergolong kecil.

Selain itu, kekurangan tenaga pendidik serta rendahnya kualifikasi pendidikan guru PAUD juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Kota Padang secara bertahap menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Padang (UNP) guna meningkatkan kualifikasi pendidikan guru PAUD ke jenjang strata satu (S1). Program ini menargetkan minimal 50 guru, dan pada tahun ini telah disiapkan sebanyak 55 guru PAUD sebagai bagian dari program prioritas Wali Kota Padang.

Meski demikian, Syafizal menilai tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya minat masyarakat untuk menjadi guru PAUD. “Persoalan sarana dan prasarana relatif lebih mudah diatasi. Yang sulit adalah ketersediaan tenaga pendidik yang berminat dan memiliki komitmen,” katanya .

Ia juga menjelaskan bahwa daya tarik profesi guru PAUD masih kalah dibandingkan guru Taman Kanak-kanak (TK). Guru TK telah memperoleh sertifikasi dari pemerintah pusat, sehingga meskipun gaji yang diterima relatif kecil, profesi tersebut tetap lebih diminati. Kondisi ini menyebabkan banyak guru PAUD beralih menjadi guru TK.

Ke depan, pemerintah berharap PAUD dapat disetarakan dengan TK sehingga guru PAUD berpeluang memperoleh sertifikasi. Dengan demikian, kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru diharapkan meningkat. Selain itu, Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD juga direncanakan naik menjadi Rp600.000 per anak," jelasnya saat di wawancarai pada Rabu 28 Januari 2026.

Saat ini, guru PAUD hanya menerima insentif sekitar Rp500.000 per bulan. Oleh karena itu, penguatan dari sisi kelembagaan dan kebijakan dinilai sangat diperlukan. Langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah menyelesaikan aspek regulasi dan administrasi, kemudian dilanjutkan dengan penguatan kelembagaan PAUD, khususnya bagi PAUD yang masih berada pada level bawah.

Syafizal menambahkan, keberlangsungan PAUD sangat bergantung pada jumlah peserta didik. Semakin banyak anak yang terdaftar, semakin besar pula dana BOP yang diterima oleh lembaga PAUD tersebut.

Reporter : Ayu 

Label:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.