REALITANUSANTARA.COM
PADANG – Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Sumatera Barat masa bakti 2025–2029 resmi dilantik dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Hotel Pangeran Beach, Padang, Senin (6/7/2026). Kepengurusan baru tersebut dipimpin oleh Ir. Muhammad Dien, S.T., M.P., IPU., ASEAN Eng., yang diharapkan mampu memperkuat peran organisasi profesi insinyur dalam mendukung percepatan pembangunan daerah maupun nasional.
Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi dunia keinsinyuran di Sumatera Barat. Selain menandai dimulainya masa bakti kepengurusan baru, kegiatan juga dirangkaikan dengan Seminar Nasional Keinsinyuran bertema "Kesiapan Insinyur dalam Tantangan Penerapan Build Back Better dan Standardisasi Indonesia."
Seminar dihadiri Gubernur Sumatera Barat, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia (PII), jajaran pemerintah daerah, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, praktisi konstruksi, serta ratusan insinyur dari berbagai wilayah di Indonesia. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap peran strategis profesi insinyur dalam menjawab tantangan pembangunan di era modern.
Dalam sambutannya, Ketua PII Sumatera Barat yang baru dilantik, Ir. Muhammad Dien, menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi fase yang sangat menentukan bagi Sumatera Barat, terutama dalam mempercepat proses pemulihan pascabencana yang masih berlangsung di sejumlah daerah.
Menurutnya, berbagai bencana alam yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan infrastruktur tidak lagi cukup berorientasi pada penyelesaian proyek secara fisik semata. Pembangunan harus dirancang dengan memperhatikan aspek keselamatan, ketahanan terhadap bencana, keberlanjutan lingkungan, serta mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa konsep Build Back Better harus menjadi landasan utama dalam setiap proses pembangunan. Prinsip tersebut mengedepankan pembangunan kembali dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya, sehingga infrastruktur yang dibangun memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap ancaman bencana sekaligus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Muhammad Dien menyampaikan bahwa Persatuan Insinyur Indonesia memiliki komitmen untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan yang berkualitas. Menurutnya, organisasi profesi tidak hanya berfungsi sebagai wadah para insinyur, tetapi juga menjadi pusat pengembangan kompetensi, penyusunan rekomendasi teknis, hingga penyedia solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan.
Ia mengungkapkan bahwa kepengurusan PII Sumbar periode 2025–2029 telah menetapkan tiga prioritas utama yang akan menjadi fokus organisasi dalam beberapa tahun ke depan.
Prioritas pertama adalah mempercepat pembangunan infrastruktur pascabencana melalui keterlibatan aktif para insinyur dalam proses perencanaan, desain, pengawasan, hingga evaluasi pembangunan agar menghasilkan infrastruktur yang aman, tangguh, dan memenuhi standar nasional maupun internasional.
Prioritas kedua adalah mendorong peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi pembangunan melalui penerapan Good Engineering Practice serta pemanfaatan teknologi Building Information Modeling (BIM). Teknologi digital tersebut dinilai mampu meningkatkan kualitas perencanaan proyek, meminimalkan kesalahan konstruksi, mengurangi pemborosan anggaran, serta mempercepat proses pelaksanaan pembangunan.
Sementara itu, fokus ketiga adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia keinsinyuran melalui sertifikasi profesi, pendidikan berkelanjutan, pelatihan teknis, serta penguatan kapasitas insinyur lokal agar memiliki daya saing yang tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Muhammad Dien juga menegaskan bahwa insinyur asal Sumatera Barat harus mampu menjadi pelaku utama dalam pembangunan daerah sendiri. Menurutnya, kompetensi yang dimiliki para insinyur lokal sudah sangat memadai sehingga perlu diberikan ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam berbagai proyek strategis pemerintah.
Ia menilai kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi profesi merupakan kunci untuk menghasilkan pembangunan yang inovatif, berkualitas, serta berkelanjutan. Sinergi tersebut juga diharapkan mampu mempercepat transfer teknologi, memperkuat riset terapan, dan meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
Lebih lanjut, Muhammad Dien berharap kepengurusan PII Sumatera Barat yang baru dapat memperluas kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Menurutnya, organisasi profesi harus mampu hadir memberikan solusi melalui pemikiran, keahlian, dan pengabdian demi mendukung terwujudnya Sumatera Barat yang lebih tangguh menghadapi bencana, maju dalam pembangunan, serta sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Rangkaian Seminar Nasional Keinsinyuran yang digelar setelah pelantikan menjadi langkah awal implementasi program kerja PII Sumbar periode 2025–2029. Forum tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai penguatan standar profesi, peningkatan kompetensi insinyur, pemanfaatan teknologi konstruksi modern, hingga penguatan budaya keselamatan dalam setiap proses pembangunan.
Melalui kepengurusan baru dan berbagai program strategis yang telah disiapkan, PII Sumatera Barat diharapkan mampu memperkuat kontribusi profesi insinyur dalam mendukung pembangunan nasional yang berorientasi pada keselamatan, standar mutu, inovasi teknologi, serta keberlanjutan, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan di masa depan.
Editor : Ayu



Posting Komentar