PADANG - Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, kembali memperkuat gerakan kebersihan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pelaksanaan Padang Rancak Award (PRA) 2026 Sesi II.
Program yang digelar melalui kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Ekasakti (UNES) tersebut memasuki tahap persiapan verifikasi lapangan. Kegiatan Coaching Verifikasi Lapangan PRA Sesi II resmi dibuka di Ruang Sidang Rektorat Lantai I Universitas Ekasakti, Sabtu (5/9/2026).
Pelaksanaan sesi kedua ini tidak hanya diarahkan untuk menilai kondisi kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari tingkat rumah tangga.
Pada PRA Sesi II 2026, Pemko Padang memberikan perhatian khusus terhadap pemilahan sampah organik, terutama sisa makanan yang berasal dari aktivitas rumah tangga.
DLH Kota Padang menilai kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah penting dalam memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Sampah organik yang dipisahkan sejak awal akan lebih mudah dikelola sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Kabid Program Pengembangan Komunikasi dan Kemitraan Lingkungan DLH Kota Padang, Fuad Syukri, mengatakan pelaksanaan sesi kedua diberikan waktu lebih panjang agar setiap RT dan bank sampah memiliki kesempatan mempersiapkan kondisi lingkungan secara konsisten.
Fokus terhadap sampah sisa makanan juga berkaitan dengan upaya mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pengelolaan sampah organik yang tidak tepat, termasuk potensi emisi gas metana.
“Memilah sampah bertujuan agar pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan baik dan benar. Diharapkan budaya bersih ini terus melekat, tidak hanya saat perlombaan berlangsung,” ujar Fuad.
PRA Sesi II dijadwalkan berlangsung pada 12 Juli hingga 1 Oktober 2026. Durasi tersebut disesuaikan dengan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Padang ke-357 sekaligus menjadi bagian dari persiapan menghadapi penilaian Adipura.
Untuk memastikan proses verifikasi berjalan secara menyeluruh, sebanyak 312 mahasiswa Universitas Ekasakti dilibatkan sebagai tim penilai lapangan.
Mereka akan melakukan verifikasi terhadap 3.456 RT yang tersebar di Kota Padang. Keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu diharapkan memberikan perspektif akademis sekaligus memperkuat objektivitas proses penilaian.
Para mahasiswa tidak hanya bertugas mencatat kondisi lingkungan. Mereka juga dibekali kemampuan komunikasi dan etika ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Mahasiswa diminta mengedepankan integritas, objektivitas, kejujuran, serta kesantunan selama menjalankan proses verifikasi. Hasil penilaian nantinya menjadi bahan bagi tim juri dalam menentukan capaian masing-masing wilayah.
Sebanyak 312 mahasiswa tersebut berasal dari delapan fakultas di lingkungan UNES, yakni FISIPOL, Ekonomi, Akuntansi, Hukum, Teknik, FKIP, Pertanian, dan Sastra. Sebelum diterjunkan ke lapangan, mereka mengikuti coaching intensif selama dua hari, 5–6 September 2026, yang diberikan oleh tim teknis DLH dan Tim Juri PRA.
Keterlibatan UNES dalam PRA 2026 juga memperlihatkan semakin kuatnya kolaborasi pemerintah daerah dengan perguruan tinggi dalam menjalankan program pembangunan berbasis masyarakat.
Ketua Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Padang, Prof. Dr. Andi Suryaman Mustari Pide, menilai PRA bukan sekadar kompetisi kebersihan antarkawasan.
Menurutnya, substansi utama kegiatan tersebut adalah membangun karakter dan mengubah perilaku masyarakat agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Rektor UNES Prof. Dr. Sufyarma Marsidin menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Pemerintah Kota Padang kepada UNES. Ia meminta mahasiswa yang terlibat menjalankan proses verifikasi secara profesional, jujur, dan objektif.
Keterlibatan mahasiswa juga diharapkan menjadi pengalaman akademik sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat. Melalui interaksi langsung dengan warga, mahasiswa dapat turut menyampaikan edukasi mengenai pentingnya kebersihan dan pemilahan sampah.
Pemko Padang menempatkan Padang Rancak Award sebagai instrumen untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya RT yang memperoleh penghargaan, tetapi juga dari seberapa jauh kebiasaan menjaga kebersihan dan memilah sampah dapat bertahan setelah rangkaian penilaian selesai.
Pemerintah berharap gerakan tersebut berkembang menjadi budaya bersama di tingkat keluarga, lingkungan RT, RW, hingga kelurahan.
Langkah ini juga sejalan dengan kebutuhan kota-kota besar untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Rumah tangga menjadi salah satu titik penting karena sebagian besar aktivitas menghasilkan sampah setiap hari.
Jika pemilahan dilakukan sejak dari rumah, sampah organik dan anorganik dapat ditangani sesuai karakteristiknya. Kondisi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat mengurangi beban pengelolaan sampah yang harus ditangani pemerintah.
Pelaksanaan PRA Sesi II menjadi bagian dari agenda Pemko Padang untuk membangun lingkungan kota yang bersih sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada momentum kompetisi. Edukasi dan kebiasaan memilah sampah diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, pengurus RT, bank sampah, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, Padang Rancak Award tidak hanya berbicara mengenai siapa yang menjadi pemenang, tetapi juga bagaimana seluruh masyarakat dapat mengambil bagian dalam menjaga kebersihan kota.
Dari rumah, perubahan itu dimulai. Dengan memilah sampah organik dan anorganik, menjaga lingkungan sekitar, serta membangun kebiasaan hidup bersih, masyarakat dapat ikut mewujudkan Kota Padang yang lebih bersih, sehat, tertib, dan berkelanjutan.(Ayu)


Posting Komentar