REALITANUSANTARA.COM
Padang — Kepala Sekolah SMPN 09 Parak Gadang Timur, Kota Padang, Ademutia, M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan peserta didik tidak semata-mata ditentukan oleh proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh peran aktif keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Menurutnya, sekolah dan orang tua harus berjalan seiring sebagai mitra strategis dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta kepribadian peserta didik secara utuh dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan kolaborasi tersebut, SMPN 09 Parak Gadang Timur secara konsisten membangun sinergi dengan orang tua melalui berbagai saluran komunikasi. Salah satu langkah konkret yang dinilai efektif adalah pembentukan grup WhatsApp parenting di setiap kelas. Media ini dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dua arah antara wali kelas dan orang tua untuk memantau kehadiran, perkembangan perilaku, serta kedisiplinan peserta didik secara cepat dan responsif.," ujar Ademutia kepada media realita-nusantara.com di ruang kerjanya, Selasa 20 Januari 2026.
“Melalui komunikasi yang terbuka dan berkesinambungan, orang tua dapat mengetahui kondisi anaknya di sekolah, dan sekolah pun memperoleh gambaran tentang situasi anak di rumah. Inilah kunci pembinaan yang efektif,” ujar Ademutia.
Dalam kegiatan program walikota smart surau tersebut mulai menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan data terbaru sekolah, tingkat kehadiran peserta didik mengalami peningkatan dan saat ini telah mencapai 77 persen. Meskipun demikian, pihak sekolah menilai capaian ini masih perlu terus ditingkatkan, terutama bagi peserta didik yang berada dalam pengasuhan kakek atau nenek akibat orang tua tidak tinggal serumah.
Untuk menangani kondisi tersebut, sekolah menerapkan pendekatan bertahap, persuasif, dan humanis. Tahap awal dilakukan melalui komunikasi personal dengan peserta didik guna memahami latar belakang keluarga dan kendala yang dihadapi. Selanjutnya, wali kelas menghubungi orang tua atau wali melalui WhatsApp dengan penyampaian yang edukatif dan solutif. Jika komunikasi daring belum membuahkan hasil optimal, sekolah melanjutkan dengan pertemuan tatap muka dengan orang tua guna merumuskan solusi bersama demi kepentingan terbaik bagi anak.
Di sisi lain, sekolah juga menghadapi tantangan sosial yang cukup kompleks. Meskipun lingkungan masyarakat didominasi oleh pemeluk agama Islam, penguatan aspek akidah, akhlak, dan keimanan peserta didik masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Hal ini tercermin dari masih rendahnya kesadaran sebagian peserta didik dalam menjalankan kewajiban ibadah, seperti salat lima waktu. Minimnya pendampingan dan keteladanan di rumah dinilai berdampak langsung terhadap sikap dan kedisiplinan anak di sekolah.
Selain itu, pengaruh penggunaan gawai (gadget) yang tidak terkontrol juga menjadi perhatian serius. Sekolah secara aktif mengimbau orang tua agar melakukan pengawasan sederhana namun konsisten, seperti membatasi durasi penggunaan gawai, mengontrol akses konten, serta mengatur jam istirahat anak. Sekolah juga merekomendasikan pola hidup disiplin dengan menganjurkan peserta didik mulai beristirahat pada pukul 20.00–21.00 WIB.
Menurut Ademutia, tingkat keimanan dan ketakwaan peserta didik sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter secara menyeluruh. Oleh sebab itu, penilaian sikap siswa tidak hanya dilihat dari aspek akademik, tetapi juga lingkungan keluarga dan pola pengasuhan orang tua terhadap anak. Sekolah juga mewajibkan wali kelas dengan jumlah siswa rata-rata 32 orang per kelas, wali kelas memikul tanggung jawab besar dalam memantau perkembangan setiap individu peserta didik.
Namun, kebijakan penguatan komunikasi dengan orang tua juga menghadirkan tantangan internal. Sejumlah guru mengaku mengalami kendala karena intensitas komunikasi di luar jam kerja, khususnya melalui telepon, yang berpotensi mengganggu waktu pribadi dan keharmonisan keluarga. Menyikapi hal tersebut, pihak sekolah terus membangun pemahaman bahwa pendampingan peserta didik merupakan bagian dari tanggung jawab profesional sekaligus bentuk pengabdian, yang tetap perlu diimbangi dengan manajemen waktu yang sehat.
Secara berkelanjutan, sekolah juga memberikan pembinaan kepada para guru agar memahami bahwa peran pendidik tidak hanya sebatas penyampaian materi pelajaran, tetapi juga mencakup pembentukan nilai-nilai moral, akhlak, dan spiritual peserta didik. Sinergi antara guru dan orang tua dinilai menjadi faktor kunci, terutama bagi siswa yang minim pengawasan di rumah, karena kondisi tersebut berpotensi memunculkan perilaku menyimpang jika tidak ditangani sejak dini.
Dalam jangka panjang, SMPN 09 Parak Gadang Timur berkomitmen menerapkan pola pembinaan yang konsisten, bertahap, dan berkelanjutan guna membangun komunikasi yang sehat antara sekolah dan keluarga. Tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, religius, dan kondusif, sehingga peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi yang berkarakter kuat, beriman, bertanggung jawab, serta mampu menerapkan nilai-nilai positif baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter : Ayu

Posting Komentar