REALITANUSANTARA.COM
PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kembali menegaskan komitmennya dalam merawat identitas budaya Minangkabau melalui jalur pendidikan formal. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, mendampingi Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, secara resmi meluncurkan program Silek Tradisi Minangkabau sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib di seluruh SMA, SMK, dan SLB se-Sumatera Barat.
Peluncuran program yang dipusatkan di halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat itu berlangsung khidmat dan penuh semangat kebudayaan. Ribuan pelajar dari berbagai kabupaten dan kota mengikuti kegiatan ini secara daring, bersama jajaran pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) serta komunitas dan para tuo silek dari seluruh penjuru ranah Minang.
Dalam penjelasannya, Habibul Fuadi mengungkapkan bahwa kebijakan ekstrakurikuler wajib silek tradisi sejatinya telah mulai diterapkan sejak awal tahun ajaran Juli 2025. Namun, pada tahap awal, implementasinya belum memiliki standar baku yang seragam di seluruh satuan pendidikan. Untuk itu, Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar kini telah menyusun dan menerbitkan modul pembelajaran yang terstruktur, sistematis, dan seragam sebagai pedoman resmi bagi sekolah.
Menurutnya, kehadiran modul tersebut menjadi tonggak penting agar pelaksanaan silek tradisi tidak sekadar simbolik, melainkan benar-benar terintegrasi dalam sistem pendidikan karakter. Dengan pendekatan yang terstandarisasi, setiap sekolah diharapkan mampu menyelenggarakan pembelajaran silek secara profesional, terarah, dan tetap berpijak pada nilai-nilai asli Minangkabau.
Lebih jauh, Habibul menegaskan bahwa silek tradisi bukan hanya tentang teknik bela diri atau keterampilan fisik semata. Di dalamnya terkandung nilai adab, etika, kedisiplinan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap guru dan sesama. Filosofi tersebut selaras dengan prinsip adat Minangkabau yang terkenal, yakni adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah—sebuah konsepsi yang memadukan norma adat dengan nilai-nilai agama sebagai landasan kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, implementasi silek tradisi di sekolah diproyeksikan sebagai instrumen pembentukan karakter pelajar yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Program ini juga diintegrasikan dengan kegiatan wajib lain seperti tahfiz Al-Qur’an, wirid kolaborasi, dan pramuka, sehingga membentuk ekosistem pendidikan yang menyatukan budaya lokal, nilai keagamaan, dan penguatan kebangsaan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Vasko Ruseimy menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah strategis tersebut. Ia menilai bahwa silek tradisi merupakan warisan budaya yang memiliki dimensi historis dan filosofis yang mendalam, sehingga perlu dihidupkan kembali melalui pendidikan formal agar tidak tergerus arus modernisasi.
Menurutnya, silek mengajarkan lebih dari sekadar gerak dan teknik pertahanan diri. Ia merupakan cerminan etika sosial, tata krama, serta kearifan lokal yang membentuk identitas masyarakat Minangkabau. Melalui program ini, pemerintah daerah berharap generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya, melainkan tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter, berbudaya, dan berakhlak mulia.
Kegiatan peluncuran tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Provinsi Sumbar, Muhidi, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, pengurus IPSI provinsi serta kabupaten/kota, hingga para tuo silek yang menjadi penjaga tradisi turun-temurun.
Peluncuran ekstrakurikuler wajib silek tradisi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah strategis dalam membangun generasi Sumatera Barat yang beridentitas kuat, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.
Editor : Ayu

Posting Komentar